1. DR. Asvi Warman, membagi Perancang Gerakan 30 September menjadi 2 golongan yakni yang berasal dari golongan Militer dan golongan sipil anggota PKI
2. Mereka yang berasal dari militer adalah Brigjend Soepardjo, Kol.Latief, Letkol Untung Syamsuri dari kalangan sipil/ PKI adalah DN Aidit, Sjam Kamaruzamman, Nyoto, MH Lukman dan Sudisman.
3. Brigjend Soepardjo lahir di Gombong, Jawa Tengah, pada 23 Maret 1923. Nama lengkapnya Moestafa Sjarief Soepardjo. Ia satu angkatan dengan Ignatius Slamet Rijadi (gugur dalam perang melawan gerombolan Republik Maluku Selatan/RMS).
Sebelum G 30 S meletus, pria bertubuh tinggi tegap ini menjabat sebagai panglima Komando Tempur Siaga Dua (Pangkopurgada) dengan pangkat brigadir jenderal. Markasnya di Bengkayang, Kalimantan Barat.
Pagi hari menjelang subuh 12 Januari 1967, Tim Operasi Kalong bergerak ke arah Halim. Pasukan memasuki komplek perumahan AURI pukul 05.30. Dalam penggeledahan, Soepardjo berhasil ditangkap di loteng rumah Kopral Udara Sutardjo. Soepardjo terpaksa turun dari loteng setelah seorang pasukan penangkap mengancam akan menembaknya. Selain Soepardjo turut terciduk Anwar Sanusi, seorang penulis buku pelajaran sejarah dan anggota PKI. Menurut Roosa, Soepardjo bukanlah salah seorang pimpinan inti G30S. Perannya sebatas sebagai perwira yang mempunyai koneksi untuk berhubungan langsung dengan Presiden Sukarno. Soepardjo sama sekali tidak menghadiri rapat-rapat perencanaan pada pekan-pekan sebelumnya. Dia tiba di Jakarta hanya tiga hari sebelum aksi dimulai.
Harian Sinar Harapan 3 Oktober 1968 mewartakan keputusan Presiden Soeharto yang menolak permohonan grasi yang diajukan Soepardjo bersama empat orang gembong G30S lainnya. Perwira bintang satu bernama lengkap Mustafa Sjarief Soepardjo itu meregang nyawa dihadapan regu tembak pada 16 Mei 1970.
4. Kolonel Abdul Latief -lahir di Surabaya, Jawa Timur, 27 Juli 1926 adalah seorang tentara yang merupakan salah seorang saksi peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965. Karena dituduh makar dan terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September.
Kolonel Abdul Latief, bersama Letkol Untung dan Brigjen Soepardjo, merupakan salah satu perwira utama pelaku G30S. Saat itu Latief menjabat Komandan Brigade Infanteri I/Djaja Sakti. Jabatannya strategis karena dia membawahi pasukan pengamanan ibu kota. Setelah G30S gagal, Latief ditangkap tentara Siliwangi. Latief ditangkap di rumah saudara sepupu istrinya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada 2 Oktober 1965 dan dijebloskan ke dalam penjara sejak 11 Oktober 1965. Ia dibebaskan pada 25 Maret 1999. Kaki Latief ditembak dan ditusuk bayonet. Selama puluhan tahun dia berada di ruang isolasi dan disiksa. Kakinya yang luka tak pernah diobati benar, hingga berbelatung. Apa sebab Latief diperlakukan sedemikian rupa? Latief sendiri mengaku dia memegang rahasia Soeharto. Sebelum G30S, Latief telah memberi tahu Soeharto soal rencana penculikan para dewan jenderal itu. Latief memang cukup dekat dengan Soeharto.
Latief memang tak sempat dieksekusi, dia menghabiskan siksaan puluhan tahun di penjara. Saat reformasi dia dibebaskan dan meninggal tahun 2005 lalu.
5. Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri lahir di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah pada 3 Juli 1926, adalah Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang memimpin Gerakan 30 September pada tahun 1965.
Untung adalah bekas anak buah Soeharto ketika ia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo.
Untung adalah Komandan Kompi Batalyon 454 dan pernah mendapat didikan politik dari tokoh PKI, Alimin. Untung Sutopo Bin Syamsuri pindah dari Kebumen ke Desa Jayengan, Solo, pada tahun 1927. Nama kecilnya adalah Kusman. Ayahnya bernama Abdullah dan bekerja di sebuah toko peralatan batik di Pasar Kliwon, Solo. Setelah G30S meletus dan gagal dalam operasinya, Untung melarikan diri dan menghilang beberapa bulan lamanya sebelum kemudian ia tertangkap secara tidak sengaja oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Ketika tertangkap, ia tidak mengaku bernama Untung. Anggota Armed yang menangkapnya pun tidak menyangka bahwa tangkapannya adalah mantan Komando Operasional G30S. Setelah mengalami pemeriksaan di markas CPM Tegal, barulah diketahui bahwa yang bersangkutan bernama Untung. Setelah melalui sidang Mahmilub yang kilat, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat pada tahun 1966, setahun setelah G30S meletus.
6. Dipa Nusantara Aidit (lahir di Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun) adalah seorang pemimpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI). Lahir dengan nama Ahmad Aidit di Pulau Belitung.
DN Aidit Ia ditangkap di Desa Sambeng, dekat Solo, Jawa Tengah, pada 22 November 1965 malam, dan esok paginya ditembak mati. Sebelum ditangkap pasukan pimpinan Kolonel Yasir Hadibroto, Aidit dikabarkan sempat membuat pengakuan sebanyak 50 lembar. Pengakuan itu jatuh ke Risuke Hayashi, koresponden koran berbahasa Inggris yang terbit di Tokyo, Asahi Evening News. Menurut Asahi, Aidit mengaku sebagai penanggung jawab tertinggi peristiwa "30 September."
Rencana pemberontakan itu sudah mendapat sokongan pejabat PKI lainnya serta pengurus organisasi rakyat di bawah PKI. Alasan pemberontakan, mereka tak puas dengan sistem yang ada. Rencana kup semula disepakati 1 Mei 1965, tetapi Lukman, Njoto, Sakirman dan Nyono-semuanya anggota Committee Central--menentang.
7. Kamaruzaman (lahir di Tuban, Jawa Timur, 30 April 1924 – meninggal di Kepulauan Seribu, Jakarta, 30 September 1986 pada umur 62 tahun) atau juga dikenal Kamarusaman bin Achmad Mubaidahdan Sjam, adalah anggota kunci dari Partai Komunis Indonesia yang telah dieksekusi karena bagian dari pada kudeta 1965 yang lebih dikenal sebagai peristiwa G30S. Pada tahun 1964, Sjam, diangkat menjadi kepala Biro Khusus PKI. Ini terdiri dari lima laki-laki: Sjam sendiri, Pono (Supono Marsudidjojo), asisten Sjam, Bono, Wandi dan Hamim. Tiga orang pertama memiliki tugas menghubungi personil militer untuk mengumpulkan informasi. Semua anggota kelompok ini memiliki pekerjaan pada siang hari untuk menyembunyikan keanggotaan partai dan fungsi mereka yang sebenarnya. Kelima orang bertemu sebulan sekali untuk bertukar informasi, yang kemudian Sjam akan menyampaikan kepada Aidit, yang kemudian pada gilirannya akan memberi perintah. Dalam PKI, hanya Aidit dan beberapa anggota senior partai mengetahui keberadaan Biro Khusus, dan sejumlah langkah diambil untuk menjamin kerahasiaan yang dipertahankan. Untuk orang luar, Sjam, Pono dan Bono tampaknya menjadi mata-mata militer.
Di pengadilan sebagai saksi selama persidangan karena orang lain menuduh atau bertanggung jawab atas Gerakan 30 September, Sjam mengaku ia telah bertindak di bawah perintah Aidit. Ia dijatuhi hukuman mati pada tahun 1968, tetapi terus muncul sebagai saksi dalam berbagai masalah terkait, di mana ia terus mengungkapkan rincian lebih lanjut untuk menunda eksekusi. Dia akhirnya dieksekusi pada bulan September 1986.
8. Lukman Njoto atau Nyoto adalah seorang Menteri Negara pada masa pemerintahan Soekarno. Nyoto juga merupakan wakil Ketua CC PKI dan sangat dekat dengan D.N. Aidit. Nyoto menikah dengan salah satu keluarga ningrat Mangkunegaran Solo yang bernama Sutarni. Wanita priyayi ini tidak memiliki kegiatan politik apa pun dikarenakan dia adalah sosok yang begitu mementingkan anak-anaknya sampai tragedi 1965 meletus. Nyoto adalah Menteri Negara dan Wakil Ketua CC PKI sampai dia dihabisi, istri dan tujuh anaknya dijebloskan ke dalam tahanan di Kodim Jl Setiabudi, Jakarta.
Pada tanggal 11 Maret 1966 sepulangnya dari sidang kabinet Nyoto diculik oleh sekelompok orang yang tidak diketahui identitasnya dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Jl. Tirtayasa. Ada beberapa tapol yang pernah melihatnya di Rutan Salemba tetapi setelah itu mereka tidak melihat lagi karena kemudian terhembus kabar burung bahwa Nyoto sudah dieksekusi di salah satu kepulauan Seribu di Teluk Jakarta.
9. M.H. Lukman atau nama panjang Muhammad Hatta Lukman lahir Tegal, Jawa Tengah, 1920 adalah tokoh komunis Indonesia. Ia adalah Wakil Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia. Lukman diam-diam dieksekusi mati pada akhir tahun 1965 selama pembersihan anti-komunis 1965-1966, tanpa kejelasan hukum karena ia dianggap terlibat dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Letkol. Untung dan kawan-kawan serta PKI, sehingga disalahkan atas peristiwa Gerakan 30 September oleh masa Orde Baru.
10. Sudisman lahir di Jember, 1920 adalah pejuang yang telah melewati pasang-surut revolusi Indonesia dengan berani. Sudisman dihukum mati karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September pada tahun 1965. Sudisman (1920 - Oktober 1968) adalah sekretaris jenderal Partai Komunis Indonesia (PKI) dan satu-satunya pemimpin PKI yang diadili setelah Gerakan 30 September pada 1965. Ia dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi.
Diolah dari berbagai Sumber: Wikipedia, Hostoria Online, Buku Kitab Merah dan Referensi lain yang relevan