Monday, January 27, 2020

Mengenang Peristiwa Laut Aru


15 JANUARI 1962

AYAH GUGUR DENGAN USUS TERBURAI.....

Yuliani Wiratno putri Kapten P. Wiratno Komandan KRI Matjan Tutul....

Laut kawasan Aru pekat! tidak juga muncul bintang dilangit... 3 buah kapal cepat torpedo canggih masa itu terlihat dalam formasi berjarak.

Kerahasiaan operasi infiltrasi ini mutlak, sampai sampai mengisi bahan bakar dilakukan di tengah laut, bahkan dalam perjalanan kontak radio wajib di matikan istilahnya radio silent.

Waktu menunjukkan pukul 20 lewat 45 menit dalam catatan harian kapal KRI Matjan Koembang... Formasinya adalah KRI Harimau berada di depan, membawa antara lain Kol. Sudomo, Kol. Mursyid, dan Kapten Tondomulyo sebagai kapten kapal. Berurut di belakangnya adalah KRI Macan Tutul yang dinaiki Komodor Yos Sudarso dengan Kapten kapal Wiratno dan KRI Matjan Koembang.

Sebagai kapal terdepan MTB Harimau menjadi panduan bagi kapal-kapal lainnya.

Menjelang pukul 21.00, Kol. Mursyid melihat radar blips pada lintasan depan yang akan dilewati iringan tiga kapal itu. Dua di sebelah kanan dan satu di kiri. (2 kapal jenis Freegat, Evertsen dan Kortenaer, satunya lagi adalah kapal Induk Karl Doorman) tanda blips tidak bergerak, menandakan kapal-kapal sedang berhenti.

Ketiga KRI tetap melaju.

Tiba-tiba terdengar dengung pesawat neptune Belanda mendekat, lalu menjatuhkan flare (merah menyala terang) yang tergantung pada parasut. Keadaan menjadi terang-benderang, dalam waktu cukup lama.

Kapal Belanda melepaskan tembakan peringatan yang jatuh di samping KRI Harimau. Kol. Sudomo memerintahkan untuk balas menembak. Lalu KRI Macan Tutul menembakan tembakan balasan namun tidak mengenai sasaran. Berbekal titik api dari moncong tembakan itulah mungkin Belanda berhasil menargetkan sasaran tepat ke lambung kapal dan ruang kendali KRI Macan Tutul mengakibatkan beberapa anggota terluka termasuk Kapten Kapal Wiratno.

Dalam keadaan darurat, Komando kapal Macan Tutul kemudian diambil alih Yos Soedarso. Keadaan semakin genting. Lalu Kol Soedomo memerintahkan ketiga kapal untuk berputar ke kanan arah 239 derajat. Kolonel Soedomo menyadari pertempuran tidak seimbang.

Ketiga KRI hanya dipersenjatai senapan mesin anti pesawat terbang berupa senjata 12.7mm dan meriam 40 mm yang tidak bisa menjangkau target kapal-kapal Belanda dan tidak membawa torpedo sama sekali sehingga tidak mungkin menghadapi kapal Belanda yang jauh lebih kuat yang berjenis freegat dan destroy mempunyai meriam 4,7 inci (12 cm), Dua KRI berhasil berbalik arah, namun KRI Macan Tutul malah lurus (agak kekanan) mendekati kapal Belanda Mr Eversten.

Ada beberapa versi mengapa KRI tersebut malah menghampiri kapal Belanda. Sebagian mengatakan kendali kapal macet sehingga tidak bisa berputar haluan, malah menuju kearah musuh. Ada pula yang mengatakan Yos Soedarso sengaja memerintahkan kapal tetap melaju kedepan untuk mengorbankan diri agar kedua kapal lainnya selamat, lainnya mengatakan komando salah dengar, harusnya kapal menuju 239 derajat malah 329 derajat sehingga arahnya lurus.

Di dalam KRI Harimau dan KRI Matjan Koembang dari radio komunikasi masih jelas terdengar...

"Kobarkan semangat pertempuran"

Suara Komodor Yos Soedarso melalui radio meneriakkan perintah.

Belanda melihat gerakan KRI Macan Tutul berusaha mendekati kapal mereka. Mereka mengetahui laju kapal ini untuk memenuhi jarak tembak torpedo. Pihak Belanda menyangka KRI Macan Tutul membawa torpedo bersiap untuk melakukan torpedo run (serangan torpedo).

Mengantisipasi serangan torpedo dari KRI Macan Tutul yang seperti diketahui efek rusak torpedo jauh lebih sadis daripada peluru meriam biasa, Belanda memusatkan serangan ke arah MTB Macan Tutul. Tembakan pertama meleset dan kemudian disusul dengan tembakan kedua hingga mengenai lambung KRI Macan Tutul.

Kapten Wiratno lebih dulu gugur terkena tembakan Belanda sehingga komando diambil alih oleh Yos Sudarso. Pria kelahiran Salatiga ini kemudian memerintahkan pekik perjuangan yang sangat terkenal dalam perjuangan di laut tersebut.

Setelah lambung kapal rusak dan terus diserang oleh Belanda akhirnya KRI Macan Tutul tenggelam bersama semua pasukan yang berada di dalam kapal. Ada 25 ABK KRI Macan Tutul tewas selebihnya yang selamat ditawan Belanda. (Dok. 50 tahun TNI AL)

Load comments